Kontribusi Berita dan Konten

Anda dapat mengirimkan konten ataupun berita yang ingin anda tayangkan di situs PPHP. Berita ataupun konten yang anda kirimkan akan kami periksa terlebih dahulu sebelum ditayangkan. Silahkan login melalui form di bawah ini atau registrasi jika belum menjadi anggota dengan mengisi data anda dengan lengkap. Pastikan kotak isian yang bertanda (*) terisi dengan benar. Dengan mengirimkan berita/content kepada PPHP berarti anda sudah membaca dan menyetujui persetujuan untuk menjadi kontributor.


belum menjadi anggota? daftar disini
×

Registrasi User

Silahkan isi form di bawah ini dengan mengisi data anda dengan lengkap. Pastikan kotak isian yang bertanda (*) terisi dengan benar. Dengan mengirimkan berita/content kepada PPHP berarti anda sudah membaca dan menyetujui persetujuan untuk menjadi kontributor.

×

Aturan persetujuan pengiriman konten

Pengunjung yang terhormat, Pengiriman berita/konten ke situs PPHP diharapkan dan diharuskan memenuhi persetujuan yang ada seperti dibawah ini. Hal ini dilakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dan juga untuk menjaga keakuratan data yang nantinya akan tersimpan di situs ini. Adapun beberapa point yang harus diperhatikan antara lain:

Saya setuju, lanjutkan ke pendaftaran atau login

×

Memaknai angka Nilai Tukar Petani dengan bijak

Dikirim 18 Desember 2011 by Rofii Tazkiyah - Dilihat: 4339

Nilai Tukar Petani (NTP) adalah rasio antara indeks harga diterima petani (IT) dengan indeks harga dibayar petani (IB) dinyatakan dalam persentase. Secara konsepsional NTP adalah pengukur kemampuan tukar barang-barang (produk) pertanian yang dihasilkan petani dengan barang atau jasa yang diperlukan untuk konsumsi rumah tangga dan keperluan dalam memproduksi produk pertanian. (BPS, 2011).


Secara umum NTP menghasilkan 3 pengertian : 1) NTP  > 100 berarti NTP pada suatu periode tertentu lebih baik dibandingkan dengan NTP pada tahun dasar; 2) NTP = 100 berarti NTP pada suatu periode tertentu sama dengan NTP pada tahun dasar; dan 3) NTP < 100 berarti NTP pada suatu periode tertentu menurun dibandingkan NTP pada tahun dasar.
Angka NTP Nasional November 2011
Nilai Tukar Petani (NTP) nasional November 2011 sebesar 105,64 atau naik 0,12 persen dibanding NTP bulan sebelumnya. Kenaikan NTP dikarenakan naiknya NTP Subsektor Tanaman Pangan sebesar 0,28 persen, NTP Subsektor Hortikultura sebesar 0,22 persen, dan NTP Subsektor Peternakan sebesar 0,32 persen.
Bulan November 2011 NTP Provinsi Bali mengalami kenaikan tertinggi (0,99 persen) dibandingkan kenaikan NTP provinsi lainnya. Sebaliknya, NTP Provinsi DI Yogyakarta terjadi penurunan terbesar (0,55 persen) dibanding penurunan NTP provinsi lainnya.  November 2011, terjadi inflasi di daerah perdesaan di Indonesia sebesar 0,41 persen terutama dipicu oleh naiknya indeks Kelompok Bahan Makanan dan Kelompok Perumahan. Nilai Tukar Petani (NTP) Nasional November 2011 sebesar 105,64 atau naik 0,12 persen dibanding NTP bulan Oktober. Kenaikan NTP dikarenakan naiknya NTP Subsektor Tanaman Pangan sebesar 0,28 persen, NTP Subsektor Hortikultura sebesar 0,22 persen, dan NTP Subsektor Peternakan sebesar 0,32 persen.  NTP Provinsi Bali mengalami kenaikan tertinggi (0,99 persen) dibandingkan kenaikan NTP provinsi lain. Sebaliknya, NTP Provinsi DI Yogyakarta terjadi penurunan terbesar (0,55 persen) dibanding penurunan NTP provinsi lain. Terjadi inflasi pada bulan yang sama di daerah perdesaan di Indonesia sebesar 0,41 persen terutama dipicu oleh naiknya indeks Kelompok Bahan Makanan dan Kelompok Perumahan. (Hasil Release NTP BPS, 2011).  
Konsep Pertukaran/barter
Konsep pertukaran/barter dianalogikan secara sederhana pada harga sebutir telur pada 10-15 tahun yang lalu adalah sepadan nilainya dengan harga ongkos transportasi pulang pergi ke suatu tempat. Kini untuk harga yang harus dibayar untuk transportasi ke tempat yang sama adalah senilai 5 butir telur. Jadi 1 butir telur waktu dulu nilainya tidak relevan lagi dengan nilai sekarang karena pengaruh inflasi. Analogi harga telur tersebut menggambarkan bahwa nilai tukar harga komoditas pertanian (contoh harga telur) mengindikasikan daya tukar komoditas pertanian terhadap barang yang dipertukarkan seperti barang faktor produksi dan konsumsi.  
Nilai Tukar Petani indikasikan kesejahteraan petani?
Nilai Tukar Petani merupakan pengembangan dari nilai tukar subsistem, dimana petani merupakan produsen dan konsumen. Nilai Tukar Petani berkaitan dengan hubungan antara hasil pertanian yang dihasilkan petani dengan barang dan jasa yang dikonsumsi dan dibeli petani. Disamping berkaitan permasalahan kekuatan relatif daya beli komoditas (konsep barter), fenomena nilai tukar petani terkait dengan perilaku ekonomi rumahtangga. Proses pengambilan keputusan rumahtangga untuk memproduksi, membelanjakan dan konsumsi suatu barang merupakan bagian dari perilaku ekonomi rumahtangga (teori ekonomi rumah tangga).
Angka NTP yang tercipta sejatinya merupakan indikator tingkat daya beli masyarakat/petani dan hal ini yang bisa digunakan mengukur kesejahteraan petani dari sisi daya beli terhadap harga barang non pertanian.  NTP yang naik berarti daya beli petani meningkat, tetapi bukan berarti tingkat kesejahteraan petani secara nominal meningkat. (Muchjidin Rachmat, PSEKP 2011). Kenaikan angka NTP mencerminkan kenaikan harga komoditas pertanian, namun perlu dilihat dan diwaspadai penyebab utama kenaikan tersebut. Secara umum naiknya harga komoditas pertanian dipicu oleh tingginya permintaan, tetapi dari sisi stok dan produksi perlu dilihat juga barangkali justru terjadi penurunan produksi. Menyimak angka NTP sebesar 105,64 persen bulan November yang direlease BPS, terjadi kenaikan NTP sebesar 0,12 persen dari bulan Oktober.  Penyebab kenaikan NTP nasional karena naiknya NTP sub sektor tanaman pangan sebesar 0,28 persen, NTP sub sektor hortikultura sebesar 0,22 persen dan NTP sub sektor peternakan sebesar 0,32 persen.   NTP naik tidak selalu baik
Kenaikan NTP pada 3 sub sektor tersebut perlu dilihat apakah produktivitas hasil komoditas masing-masing memang mengalami kenaikan signifikan? Bisa jadi malah kebalikannya terjadi penurunan produksi, terutama di sub sektor tanaman pangan akibat anomali cuaca yang mengganggu produksi. Sebaliknya bila terjadi penurunan nilai tukar petani sebenarnya bukan hal jelek apabila dari sisi produktivitas komoditas meningkat akibat adopsi teknologi.  Dan pengaruh faktor produksi lain dan harga komoditas pertanian bisa imbangi harga faktor produksi dan barang non pertanian/barang konsumsi.
Pencapaian angka NTP ideal sebenarnya bukan angka absolut, angka NTP tetap pun misalkan sebesar 100 bisa tetap baik tiap bulan tetapi harus diikuti oleh kenaikan harga komoditas pertanian. Dan kenaikan harga komoditas pertanian bukan dipicu oleh produksi turun tetapi lebih karena permintaan konsumsi dalam negeri yang tinggi. Ada hubungan timbal balik antara kenaikan harga dengan inflasi, sehingga stabilitas harga perlu dijaga dan perlu dilakukan upaya efektif untuk menekan fluktuasi harga komoditas pertanian.  
Pekerjaan rumah yang belum pernah selesai dan tuntas adalah upaya meningkatkan harga komoditas hasil pertanian bersanding dengan harga-harga non pertanian. Sehingga mampu memiliki daya tukar yang tinggi atas harga faktor produksi dan barang konsumsi rumah tangga. Kenaikan harga tersebut merupakan kompensasi yang seharusnya diperoleh petani sebagai produsen. Angka NTP yang tercipta menggambarkan kesejahteraan petani makin baik bila posisi daya tukar tinggi atas barang konsumsi dan faktor produksi, faktor pemicunya adalah produktivitas yang stabil/meningkat dan permintaan tinggi. (R.tzk)  




Berita Utama Lainnya

PERHITUNGAN ANALISA KELAYAKAN USAHA
Penggunaan: UPJA Mesin Perontog (Power Thresher)

Diasumsikan bahwa:

kg/jam
HP
tahun
jam/hari
hari/tahun
per orang
orang
%
kg

1. Biaya Tetap

2. Biaya Tidak Tetap

3. Benefit Cost Ratio

4. Break Event Point
ton/tahun
hektar/tahun
hektar/musim

5. Pay Back Period
tahun
tahun
×