Halaman: [1]
Pembuat Topik: Aspek Pemasaran - Bawang Merah  (Baca 9198 kali)
fitzroi
Newbie
*
Tulisan: 3


Lihat Profil Email
« pada: Juli 02, 2009, 03:37:01 »

Aspek Pemasaran - Bawang Merah

A.   Aspek Permintaan
   Dalam Negeri
Permintaan dalam negeri terhadap bawang merah datang dari berbagai sumber yaitu :
a.   Dari pasar bawang merah segar untuk memenuhi permintaan keperluan rumah tangga. Bawang rah merupakan tanaman sayuran yang banyak digunakan oleh keluarga masyarakat Indonesia, terutama sebagai bumbu penyedap masakan. Selain itu juga sering dipakai sebagai bahan obat-obatan untuk penyakit tertentu;
b.   Permintaan yang datang untuk memenuhi keperluan industri olah lanjut yang menggunakan bawang merah sebagai bahan baku misalnya untuk industri bawang goreng.
 
Besarnya jumlah permintaan tersebut sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain :
c.   Harga bawang yang berlaku di pasar enceran;
d.   Pendapatan rumah tangga;
e.   Harga bawang yang berlaku di pasar enceran;
f.   Harga barang komplemen yang lain;
g.   Harga barang turunan dari produk bawang merah;
h.   Hari-hari besar di mana permintaan terhadap bawang merah segar cendrung meningkat. Permintaan terhadap bawang merah selain untuk keperluan bawang merah segar juga diperlukan untuk keperluan industri olah lanjut yaitu industri bawang goreng.
 
   Luar Negeri
Besarnya permintaan terhadap bawang merah yang datang dari luar negeri dapat dilihat dari kecendrungan meningkatnya ekspor mata dagangan ini. Dalam Tabel 3.1 dapat dilihat bahwa permintaan tersebut cenderung terus meningkat.
Permintaan ekspor tersebut sebenarnya cukup tinggi, tetapi kendala yang dihadapi oleh eksportir di Indonesia adalah pada kemampuan berproduksi yang kontinyu dalam jumlah besar.
Negara tujuan ekspor terbatas di Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Sedangkan impor bawang merah terutama dari Cina, Phlipina dan Vietnam.
B.   Aspek Penawaran
Besarnya jumlah penawaran bawang merah sangat dipengaruhi oleh faktor sebagai berikut :
a.   Ketersediaan lokasi yang sangat cocok untuk bercocok tanam bawang merah dan atau luas panen;
b.   Iklim;
c.   Teknologi budidaya;
d.   Harga faktor produksi.

Besarnya penawaran bawang merah dapat dikaitkan dengan produksi bawang merah di Indonesia yang hampir tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Produk bawang merah mengalami kenaikan dengan trend yang cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 1990 produksi bawang merah Indonesia mencapai 495.183 ton dan meningkat menjadi 509.013 ton pada tahun 1991.
Daerah penghasil bawang merah terbesar adalah Pulau Jawa terutama Jawa Tengah dengan produksi 155.365 ton pada tahun 1991, disusul Jawa Timur sebesar 127. 190 ton dan Jawa Barat 87.680 ton pada tahun yang sama. Daerah lain di pulau Jawa yaitu di Sumatera Utara (terutama di Pulau Samosir, danau Toba), Bali, Lombok, Lampung, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Aceh, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan daerah lain. Untuk tingkat Kabupaten, Brebes merupakan daerah penghasil terbanyak dengan jumlah 110.627 ton atau sekitar 22% dari total produksi seluruh Indonesia.
Permintaan terhadap bawang merah terbesar dari rumah tangga (keluarga, restoran, hotel dan lain-lain). Bilamana jumlah produksi bawang merah dalam negeri dianggap kurang memenuhi besarnya permintaan, kekurangan pasokan dimaksud dipenuhi oleh impor bawang merah dari luar negeri khususnya berasal dari (Filipina, Taiwan, China). Impor tersebut tidak saja untuk konsumsi, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan bibit.
 
C.   Sebenarnya bagi Indonesia pasokan bawang merah bukan merupakan masalah, karena panen bawang merah setiap musimnya diperkirakan dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri. Yang menjadi masalah adalah bagaimana mengatur produksi bawang merah sehingga dalam setiap musim panen tidak sampai terjadi kelebihan pasokan yang dapat menjatuhkan harga di tingkat petani. Jatuhnya harga pada waktu-waktu panen raya dapat mengakibatkan para petani tidak memenuhi kewajban finansialnya baik untuk kepentingan keluarganya sendiri maupun untuk kepentingan usaha taninya di waktu-waktu berikutnya dan kewajiban finansial yang menyangkut ke bank. Dalam waktu musim langka produksi (off season) petani seringkali menghadapi kesulitan dalam menyediakan dana untuk memenuhi ke butuhan awal pekerjaan usaha taninya.
 
D.   Pemasaran dalam Pola Kemitraan
Ketersediaan jaminan pasar dalam pola kemitraan antara usaha besar dan usaha kecil akan meransang petani untuk memproduksi bawang merah. Dalam usaha kemitraan yang dimaksud sejumlah petani bawang merah diposisikan sebagai mitra Usaha Kecilnya yang lazim disebut dengan Plasma. Salah satu kekuatan budidaya tanaman bawang merah dengan Pola Kemitraan ini adalah bahwa :
 .   Kepentingan petani terhadap keperluan produksi (bibit bawang merah, pupuk, biaya pengolahan tanah dan biaya pemeliharaan s/d waktu penen) dapat disediakan melalui keberadaan Usaha Besar;
a.   Demikian pula di waktu panen, hasil panen petani plasma semuanya akan diserap Usaha Besar dengan tingkat harga yang sudah diperhitungkan sebelumnya sedemikian rupa sehingga setiap kali para petani plasma panen maka INTI akan membeli pada tingkat harga tertentu yang dapat menyebabkan dari hasil total penjualan ini, maka para petani plasma tetap dapat menikmati dari sebagian hasil penjualannya untuk :

1.   Keperluan keluarganya,
2.   Menanggung beban biaya biaya produksi berikutnya, Menanggung hutang yang lain mereka kepada INTI (kalau ada), dan
3.   Tabungan keluarga serta
4.   untuk pemupukan modal sendiri.

Mekanisme penjualan bawang merah melalui mekanisme kemitraan ini memang bertujuan pokok agar melalui kemitraan ini semua yang terlibat (INTI, bank, Petani/Plasma, Lembaga Penjaminan Kredit, dll) dalam program kemitraan ini mendapat keuntungan dan keamanan bagi usahanya. Bagi pengusaha besarnya keuntungan dari posisinya sebagai Inti dapat dari penjualan sarana produksi kepada plasmanya dan keuntungan lainnya adalah dari kemampuan perusahaan ini untuk menampung hasil panen bawang merah yang tinggi tersebut dan kemudian oleh lembaga ini produk bawang merah tersebut dikeringkan dan dibersihkan lebih dahulu untuk kemudian agar dapat disimpan lebih lama dan pada saat harga bawang merah kering cukup bagus, disalurkan ke pasar saat terjadi kelangkaan pasokan. Proses ini dapat berlangsung sampai masa dengan masa tanam bawang merah berikutnya. Perusahaan INTI akan mendapatkan keuntungan yang wajar dari fungsinya sebagai lembaga pemasar tersebut. Dengan demikian pola kemitraan ini diduga dapat mencegah terjadinya lonjakan-lonjakan harga bawang merah di pasar eceran.
Sehubungan dengan itu, MK PKT ini menawarkan suatu pola pendekatan terhadap kemungkinan pola tanam dan produksi bawang merah yang dilaksanakan dengan jumlah produksi yang dapat ditargetkan, benar-benar dikuasai/dikontrol sesuai dengan kemampuan daya serap pasar yang dilaksanakan oleh perusahaan INTI. Di pihak lain dengan perusahaan INTI. Di pihak lain dengan demikian para petani akan mendapatkan harga jual yang sesuai dengan kesepakatan dengan memperhitungkan bahwa total penjualan para petani plasma dalam setiap musim panen besar tidak akan sampai harganya jatuh sehingga pada gilirannya para petani peserta kemitraan masih mampu mengatasi beban-beban finansialnya baik untuk kepentingan intern petaninya sendiri maupun kepentingan pihak ketiga (kewajiban kepada bank).
Harga bawang merah di dalam merah negeri mengalami fluktuasi sesuai dengan kondisi penawaran dan permintaan pada saat itu. Tingginya nilai tukar dollar Amerika terhadap Rupiah memperngaruhi semua harga komodoti pertanian termasuk bawang merah. Pada saat sekarang, harga rata-rata bawang lokal di beberapa daerah produsen sekitar Rp. 6.000 - Rp. 8.000 per kg untuk bawang kering konsumsi. Sedangkan untuk bawang bibit berkisar Rp. 10.000 - 12.500 per kg. Harga ini bervariasi dari satu daerah ke daerah lain, sehingga arus perdagangan bawang merah dapat beralih dari Jawa ke Sumatera. Pergerakan bawang merah antar propinsi/pulau sesuai perbedaan harga ini juga dialami oleh komoditi lain terutama cabai merah.
Harga bawang ex. Impor untuk konsumsi di tingkat pedagang sebesar Rp. 6.400 per kg (ex. India), dan Rp. 8,750 per kg (ex. Vietnam). Bawang bibit ex. Philipina Rp. 15.000 kg, dan ex. Thailand Rp. 12.000 per kg. Para konsumen umumnya lebih memilih bawang lokal karena rasa dan aroma yang lebih tajam.
Untuk analisa keuangan dalam MK PKT ini akan digunakan harga di tingkat petani sebesar Rp. 4.000.kg bawang basah
Masuk

Halaman: [1]
Cetak
Lompat ke: