Beranda | Kembali ke halaman sebelumnya

Informasi Umum

INDUSTRI PANGAN DI JEPANG
Dikirim 31 Mei 2012 by  - Dilihat: 4373

produksi minuman ringan dan pengolahan daging) sangat terkonsentrasi. 2) Yang lain, terutama yang memproduksi makanan tradisional Jepang (bir sake, teh hijau, manisan/permen, ikan dan sayur preparasi) sebagian besar tetap industri kerajinan.  Sektor ini dianggap sebagai jauh salah satu industri Jepang paling modern. Industri pangan merupakan salah satu titik atau sub sistem yang mempunyai keterkaitan secara vertikal terintegrasi dalam sistem rantai pertanian pangan sebagai berikut : 1) Industri input dan distribusi : keuangan (bank pedesaan), bahan kimia (pupuk, pestisida, herbisida, dan lain sebagainya), mesin pertanian (peralatan dan mesin) dan konstruksi (jalan, irigasi, infrastruktur lainnya), campuran pakan ternak, energi (listrik dan bahan bakar), kecakapan teknik (pelatihan, penyuluhan, penelitian dan pengembangan) dan pelayan (yang berkenaan dengan penyakit hewan, asuransi, akunting, dan lain sebagainya. 2) Sektor pertanian yang sebenarnya, dapat dibedakan kedalam dua sub sector utama, yaitu produksi tanaman dan produksi ternak, dengan sebagian produksi tanaman menjadi input untuk produksi termasuk penyediaan pakan. 3) Industri pengolahan tranformasi pertama, (produk susu, rumah potong hewan, sereal dan pabrik kelapa sawit, perkebunan anggur, pabrik gula, dll). Industri-industri ini melaksanakan pengolahan pertama produk pertanian mentah, hasil industri jarang dijual langsuk ke produsen (jenis produknya adalah susu cair, keju, gula dan tepung) Biasanya industri tranformasi ini berada dekat dengan sumber bahan baku (pertanian) atau bila bahan bakunya diimpor industri dekat dengan pelabuhan. Jenis perusahan pada kegiatan industri ini masih berskala kecil dan menengah, seringkali dimiliki keluarga atau koperasi. 4) Sektor transformasi sekunder produk akhir semi-proses yang ditarsformasikan industri pangan. Industri ini menghasilkan minuman, roti, permen, menhasilkan makanan beku, magarin, kopi instan dll. Industri ini didiversifikasi, lebih terkonsentrasi di daerah perkotaan dan seringkali dilaksanakan oleh korposai multinasional (MNC). Perhatian utama mereka adalah diferensiasi produk melalui inovasi teknologi dan teknik pemasaran tertentu (iklan yang tepat, branding dan promosi penjualan langsung). 5). Keterkaitan transportasi dan pasar induk (pemasaran dalam partai besar) produksi pertanian pangan, baik pertanian dan dua subsektor pengolahan dengan outlet ritel untuk konsumen akhir. Sektor ini ditekan oleh daya beli yang meningkat dari jaringan supermarket besar, penurunan relatif dan mutlak di sebagian besar negara-negara organisasi kerjasama ekonomi dan pembangunan. 6). Perdagangan eceran menyediakan keterkaitan kepada konsumen akhir. Sering juga menawarkan barang-barang non-pangan, persaingan khususnya dalam penjualan pangan tetap tajam dan tranformasi structural sector eceran cepat : peranan dan kekuasaan superstore dan supermarket sementara jumlah yang tidak terhitung pengecer yang independent dalam penurunan yang terus menerus dan departnebt store perkotaan yang stagnasi. 7). Konsumen adalah outlet terakhir dari usaha gabungan sektor pertanian pangan. Mengingat sifat kaku relatif dari permintaan makanan, dari hasil observasi yang dilakukan, diketahui bahwa kapasitas penyerapan terbatas dari perut manusia adalah menunjukkan batas-batas pertumbuhan seluruh sektor. Namun kebiasaan konsumen berubah dengan cepat dalam menanggapi variasi dalam gaya hidup (wanita bekerja, pergi makan keluar, dll.) dan model diet serta kepercayaan (makanan sehat, kesukaan makan daging merah, makanan vegetarian, cara memasak etnik, dll). Sistem rantai pertanian pangan di Jepang dapat disetarakan sistem agribisnis yang ada di Indonesia, meskipun ada beberapa perbedaan sesuai dengan kondisi pelaku usaha dan sistem pemerintahan, seperti pada bagan berikut ini :                     Interrelasi dalam sektor pertanian pangan cukup jelas : bahwa bila terjadi krisis pada sektor pertanian akan mempengaruhi input produksi untuk sektor industri, seperti bank pedesaan serta produsen alat dan mesin yang juga perlu dipertimbangkan. Harga produsen yang tinggi akan mempengaruhi daya saing internasional industri pengolahan pangan nasional. Keinginan dan khayalan dari permintaan konsumen akhir, menentukan tentang pertumbuhan dan penurunan seluruh cabang sektor pertanian pangan. Secara keseluruhan, bagaimanapun, sementara tidak dapat meledak, sektor dengan cara yang sama cukup stabil dan bukti dalam situasi krisis kontraksi permintaan siklus. Disadari bahwa industri pangan sangat terkait dengan ketersediaan input dari sektor pertanian, baik yang bisa diproduksi di Jepang sendiri atau harus diimpor, maka untuk menstabilkan harga dan menjaga kesinambungan produksi industri pangan, pelaku usaha pada industri pangan hanya dikuasi oleh beberapa perusahaan besar saja yang tergabung dalam bentuk Keiretsu konglomerat. Misalnya komoditi yang diimpor seperti : bahan untuk membuat bir, terigu, minyak sawit, campuan pakan, gula rafinasi diimpor oleh salah satu dari enam perusahaan yang dominan dari konglomerat Kairetsu yaitu Mitsubishi, Mitsui, Sumitomo, Dai-Ichi Kangyo, Fuyo dan Sanwa. Selain mengimpor mereka juga menyedia pendanaan dan kadang-kadang juga memasarkannya. Industri pangan yang ada saat ini terbentuk dari seperti yang diuraikan M. Tanimoto (1990, 1996) marchants daerah tradisional (TRMs), produsen skala kecil (SSMs) pemilik tanah daerah tradisional (TRLs) sebagai prototipe pengusaha moderen. Tanimoto lebih lanjut menemukan bahwa pemilik tanah sering kali datang untuk terlibat dalam bisnis manufaktur seperti anggur beras dan pengolahan kedelai, dan bahwa sikap mereka konservatif dan paroki telah memberi kontribusi pada pola perilaku masyarakat bisnis modern di Jepang Dari suatu perubahan struktur dan dalam 1960, dan suatu periode konsentrasi dan penggabungan pada tahun 1970, industri telah selesai mencapai kematangan dalam tahapan oligopost. Secara kasusistis Coyle melakukan pengamatan yang hasilnya (menyebabkan biaya produksi dan mutu bahan tambahan lebih tinggi) harga pakan ternak meningkat pada waktu melebihi peningkatan harga bahan tambahan impor. Harga pakan ternak pada tahun 1983 dalam beberapa hal 60-70 persen lebih tinggi dengan pakan ternak yang sama di Amerika. Artinya bila suatu system dilaksanakan secara oligopoly (persaingan terbatas) harga akan dikendalikan oleh produsen dan konsumen akan membayar jauh lebih dari harga yang smestinya. Perusahaan-perusahaan yang melakukan bisnis secara oligopoly juga pada saat tertentu dapat berlaku monopoli pada industri pangan (makanan dan minuman), misalnya untuk produk wiski (Suntory/Nikka), kopi instant (Nestle Japan/Ajinomoto-pangan umum), maupun duopoly –bir (Kirin), soups (Ajinomoto) dan produksi butter and cheese Snow Brand Milk. Semua sector produk moderen lain yang terdaftar dengan jelas oligopoli. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut ini..   Tabel 1.         Gabungan Perusahaan Pertanian Pangan  

No.    
1. Mutsubishi a. Kirin Brewery b. Nitto Flour Milling c. Nippon Meat Packers d. Nippon Nosan Kagyo (compound feed) e. Rokko Butter Co (Q.B.B) f. Chukyo Coca-Cola g. Mitsubishi Agr. Machinery h. Dainippon Sugar i. Kentucky Fried Chicken Japan
2. Mitsui a. Mitsui Sugar b. Taito (sugar refining) c. Nippon Flour Mills d. Nippon Formula Feed (feed and livestock) e. Mitsui Norin K.K. (Agr. + Forestry Co) f. Hohnen Oil g. Zenchiku (meat importer/wholesaler) h. Mitsukoshi
3. Sumitomo a. Asahi Breweries (controls ikka Whisky) b. Sumitomo Forestry c. Yoshihara Oil Mill d. Marudai Food (meat)
4. Daiichi Kangyo/C. Itoh a. Nippon Agr. Pesticides (Nippon Noyaku) b. Seibu Depaato c. Prima Meat Packers d. Fuji Oil e. Morinaga Milk Industries f. Iseki Agr. Machinery g. C. Itoh Sugar h. C. Itoh Shiryo (feeds) i. Nissan Agr. Industries
5. Fuyo (Fuji/Marubeni) a. Sapporo Breweries b. Nisshin Flour Milling c. Toyo Sugar Refining d. Nipón Suizan e. Takara Shuzo f. Nipón Reizo g. Hoko Fishing
6. Sanwa a. Suntory b. Ito Ham Provisions
  Tabel 2.         Cabang Mitsui dan Mitsubishi serta gabungan dalam bisnis pangan  
No. Overseas source Import trading Input industries Primary production Primary processing Secondary processing Distribution
1. Mitsui     United Grain Pacific Grain Gulf Coast Grain (US) Neptune Packing (tuna) Ocean Packing (tuna) (US) Mitsui Yoshioka do Brasil S.A (coffee processing & sale) Felda Oil Products Malaysia (palm oil refining & sale)         Mitsui Busan Kanto Denko Kaisha (fertilizer)     Nippon Formula Feed Fertilizer Mitsui S.A. (Brasil) Mitsui Norin K.K.   Mitsui Sugar Taito Sugar Nippon Flour Mills Hohnen Oil K.K. Ichirei (chiken procrdding)   Mikuni Coca Cola Bottling       Zenchiku Mutsukoshi   Sanyu Foods K.K. Shinsei
2 Mitsubishi   Agrex Inc. (US)   Mitsubishi Foods, Inc (US) MC Farm Sendirian Berhad, Brunei (cattle breeding)     Mitsubishi Shoji Nihon Nosan   Mitsubishi Agr. Machineries   Nitto Flour Mills   Dai Nippon Sugar Meiji Sugar Morinaga Milk Nisshin Oil Mills Settsu Oil Mill Japan Maize Products Kirin Brewery Rokko Butter Nippon Meat Packers Chukyo Coca Cola Souton Food Ind. (jams) Kanro Co. (confectionery) Morinaga  
Dari kondisi diatas banyak perusahaan asing, termasuk perusahaan pangan dari Indonesia tidak pernah memulai berbisnis di Jepang atau hanya memasuki pasar Jepang melalui distributor, atau hanya mungkin hanya mengekspor sampai di pelabuhan (FOB). Hal ini dianggap hanya disebabkan kesalahan konsepsi, didorong oleh mitos yang tidak terkenal dalam melakukan bisnis di Jepang, yang berhubungan dengan budaya bisnis Jepang, entah bagaimana terlalu berisiko, seperti yang diuraikan diatas Namun demikian untungnya, budaya bisnis Jepang bukan merupakan hambatan yang tidak dapat ditembus, dengan keberhasilan bisnis di Jepang, sebagaimana dibuktikan oleh pangsa pasar Jepang yang cukup besar sangat dinikmati oleh Yahoo!, BMW, Mercedes-Benz, Chanel, Louis Vuitton, Tiffany & Co dan banyak lainnya.[1] Perbedaan yang harus diperhatikan adalah bahwa pelaku bisnis Jepang semua sangat berorientasi pada pelayanan, dan pelayanan tentu saja merupakan pilar budaya bisnis Jepang. Pemerintah Jepang sangat melindungi industri pangan, karena erat kaitan dengan sector pertanian. Melindungi komoditi pertanian pangan yang dihasilkan Jepang sendiri, maka pemerintah Jepang memberikan perlindungan dari serangan impor komoditi pertanian pangan. Meskipun disatu sisi tarif bea masuk Jepang sudah rendah, bahkan sudal nol, Jepang masih menerapkan ketentuan-ketentuan yang menghambat atau menahan importasi produk industri  pangan ke Jepang. Meskipun telah ada persaingan, tekanan dari USA dan negara lain serta faktor lainnya, eksportir masih menemui masalah hambatan non tarif, antara lain:  a). Standar yang unik bagi Jepang (baik formal dan informal), b). Persyaratan bagi eksportir untuk menunjukkan pengalaman sebelumnya di Jepang;  c).  Ketentuan yang lebih berpihak pada produk domestik dan diskriminasi terhadap produk asing; d). Wewenang lisensi dipegang oleh asosiasi industri dengan anggota yang terbatas, yang berpengaruh kuat di pasar dan kemampuan untuk mengendalikan informasi; e). Cross stock holding dan interkoneksitas antara pelaku bisnis sejenis merugikan pemasok di luar kelompok;  f). Masih adanya kartel (formal dan informal); g). Pentingnya hubungan personal sebagai warisan budaya serta keengganan untuk mengubah cara-cara bisnis.(CnG) Referensi : Albrecht Rothacher, 1989. Japan’s Agro-Food Sector Yoshiro Miwa, 1996. Firms and Industrial Organization in Japan. Konosuke Odaka and Minoru Sawai, 1999. Small Firms, Large Concerns. The Development of Small Business in Comparative Perspective. http://www.venturejapan.com/japanese-business-culture.htm   Sumber : Ahmad Hidayat (PMHP Madya)  

Artikel Lainnya