Beranda | Kembali ke halaman sebelumnya

Informasi Umum

Harga Cabe Rawit Masih Mahal di Sarolangun Jambi
Dikirim 04 September 2012 by Rofii Tazkiyah - Dilihat: 3081

Awal September harga cabe rawit di Sarolangun Jambi tembus 45 ribu rupiah per kilogram tingkat petani, sementara harga eceran konsumen sampai 50 ribu rupiah per kilogram. Menjelang lebaran sampai akhir Agustus harga cabe tingkat petani di Sarolangun memang sudah cukup tinggi berkisar 45-50 ribu per kilogram. Padahal harga rata-rata nasional cabe rawit di awal September berkisar 22-25 ribuan per kilogram tingkat eceran. Menurut data BPS, kenaikan harga cabe salah satu penyumbang inflasi di Provinsi Jambi Utamanya di Kabupaten Sarolangun. Dalam perhitungan inflasi kelompok bahan makanan pada Agustus 2012 memberikan sumbangan inflasi sebesar 0,35 persen. Komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi antara lain: ikan segar 0,10 persen, tahu mentah dan tempe masing-masing 0,05 persen, daging sapi 0,04 persen, kacang panjang dan kangkung masing-masing 0,02 persen, mie kering instant, ayam hidup, daging ayam kampung, ikan diawetkan, bayam, buncis, kentang, ketimun, tomat sayur, apel, jeruk, pisang, bawang putih, cabai rawit, kelapa, dan minyak goreng masing-masing 0,01 persen. Sedangkan komoditas yang dominan memberikan sumbangan deflasi adalah telur ayam ras 0,05 persen, daging ayam ras 0,04 persen, cabai merah 0,03 persen, dan bawang merah 0,02 persen. (Data BPS, 2012). Di banyak tempat, konsumsi cabe oleh masyarakat menjelang lebaran dan akhir lebaran umumnya cukup tinggi. Sehingga menjadi salah satu faktor penyebab kenaikan harga karena tidak imbangnya permintaan dibanding pasokan.  Sentra produksi cabe di Provinsi Jambi tersebar di Kabupaten Merangin, Bungo, Tanjab Timur, Muaro Jambi, Tebo dan Sarolangun. Kebutuhan cabe rawit di Sarolangun rupanya juga dipenuhi dari Provinsi lain karena di Jambi sendiri belum mencukupi. Tersendatnya pasokan dan minimnya produksi di daerah sentra dan tempat lain juga meningkatnya permintaan menyebabkan harga cabe rawit masih tetap tinggi. Bagi petani Sarolangun, kondisi ini membawa berkah tersendiri lantaran hasil panen cabe dibeli dengan harga tinggi oleh pedagang pengumpul. Menanam cabe rawit tidak serepot menanam cabe keriting dan cabe merah besar yang membutuhkan pemeliharaan intensif dari mulai pemakaian mulsa plastik sampai penanganan OPT (Organisme Pengganggu Tanaman). Memang ada beberapa petani yang menerapkan kultur teknis cabe rawit seperti halnya cabe keriting, tetapi umumnya khusus untuk varietas/jenis hibrida yang cukup rentan terhadap OPT. Produktivitas cabe rawit dari berbagai varietas berkisar 6-9 ton per hektar. Sehingga sekali periode tanam petani setempat dapat meraup untung besar hingga 250 juta per hektar dengan asumsi harga rata-rata dari awal-akhir panen 30 ribu rupiah per kilogram.   Kondisi berbeda terjadi di Klaten Jawa Tengah, hingga 3 September harga cabe rawit tingkat petani menurut pantauan PIP (Petugas Informasi Pasar) anjlok hingga 5 ribu rupiah per kilogram.  Rendahnya harga cabe jenis rawit menurut penuturan petani setempat disebabkan oleh melimbahnya produksi cabe rawit di akhir lebaran ini. Produksi cabe di Klaten mencapai puncaknya pada bulan Agustus-September, akibat dari penanaman baru pada bulan April-Mei. Padahal pada Mei banyak pertanaman cabe milik petani terserang “antraknosa” (pathek), sejenis jamur yang menyebabkan buah cabe busuk kering sehingga produksinya pun merosot. Karena pertimbangan prediksi harga menjelang lebaran diharapkan tinggi harganya, banyak petani berspekulasi menanam kembali cabe apalagi hujan sudah jarang sehingga aman dari serangan jamur antraknosa.  Kenyataan sekarang berbeda, harga kembali anjlok karena pasokan terlalu banyak sementara permintaan tidak bertambah kendati kebutuhan puasa dan lebaran. Kadangkala ditemukan kesenjangan harga cukup tinggi di beberapa tempat, didaerah produsen seperti  Klaten dijumpai harga cabe tingkat petani 5 ribu rupiah per kilogram dan tingkat eceran 8 ribu rupiah per kilogram sehingga diperoleh margin 3 ribu rupiah per kilogram. Sehingga wajar apabila margin tiga ribu rupiah dinikmati oleh pedagang pengumpul, pedagang besar dan eceran/retailer. Barangkali perlu terobosan perdagangan antar pulau yang tidak harus singgah dulu di Pasar induk Kramatjati misalnya, karena rantainya akan terlalu panjang dan disparitas harganya pun bisa membengkak. Sekedar contoh, kondisi ideal  mungkinn dibutuhkan kerjasama perdagangan antara Klaten Jawa Tengah dengan Sarolangun Jambi tanpa melibatkan banyak pelaku di Jakarta.  (Diolah dari berbagai sumber). RTz.

Artikel Lainnya